Ada pemandangan menarik saat Persis Solo beruji coba dengan Tim Mahesa jenar PSIS Semarang, Minggu (15/2/2015) sore di Stadion Manahan Solo. Saat Pertandingan berlangsung, sebagian Pasoepati memilih duduk di luar stadion dan memilih untuk bermain sepakbola di parkiran stadion Manahan.
Lantas apa tujuan mereka? Dari wawancara redaksi PasoepatiNet dengan salah satu dirijen Pasoepati, Agos Warsoep yang ikut mendampingi, dirinya menuturkan sikap tersebut diambil sebagai bentuk protes ke pengurus Persis Solo yang terkesan lamban mengelola klub kebanggaan mereka.
“Kompetisi sudah dekat tapi manajemen belum terbentuk, sebetulnya Persis Solo ini mau dibawa kemana? Jangan hanya suporter yang allout namun yang mengurusi juga harus allout,”ujar Agos Warsoep.
Dirinya pun menambahkan, sikap tidak masuk ke Stadion Manahan juga didasari atas molornya proses pembentukan Perseroan Terbatas (PT-red) yang dulu dijanjikan oleh ketua umum Persis Solo. Tak hanya itu, dirinya juga menyayangkan lambatnya proses negosiasi pemain Persis Solo sehingga nasib pemain terkatung-katung.
“Dulu saat siaran di RRI, Ketum (Paulus Haryoto-red) dan Pak Tedy bilang kalau manajemen musim ini adalah bentukan dari PT, kalau PT belum apa terus apakah manajemen juga tidak akan dibentuk? Lalu siapa yang akan negosiasi pemain?,”imbuh Agus.
Menyikapi pro kontra yang mengiringi sikap boikot yang dilakukannya, dirinya menyikapinya dengan dingin perihal nada miring yang mengarah kepadanya beserta Pasoepati lainnya.
“Kita semua cinta Persis Solo, kami menghormati pilihan yang diambil dan tidak perlu menyudutkan aksi boikot karena tujuan kami agar Persis Solo semakin baik,”tegasnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar